Menyerah tidak ada didalam kamusku. Hanya saja ibarat komputer, kosakata baru akan selalu hadir dan ditambahkan ke dalam database kamus setiap orang. Sehingga begitu orang mengenali kata menyerah sebagai kata yang baru, mereka berusaha mendefinisikannya. Setidaknya dengan pemahaman mereka sendiri.

Menyerah kadang dilihat sebagai solusi terbaik disaat sesuatu yang diperjuangkan tidak lagi berharga, atau aku merasa lelah untuk menerima hasil yang tidak pantas kudapat.

Aku kadang bersikap bijak seolah-olah menyemangati diri agar tidak menyerah. Berpura-pura termotivasi oleh beberapa ujaran penyemangat yang malah terdengar murahan sebab diulang-ulang secara terus menerus untuk menyelesaikan masalah yang sama.

Tapi tetap saja menyerah akan menghampiri kita satu-persatu. Yang datangnya kadang tidak menentu, bahkan ditengah-tengah proses asiknya memperjuangkan.

Kita tidak bisa menolak takdir bahwa suatu hari kita juga akan menyerah. Menyerah dalam hidup, mensyukuri kenyataan, hingga menyerah memperjuangkan orang yang kita kasihi, dan kadang kita terlalu mudah melepaskan perjuangan yang sudah setengah jalan.

Begitu juga dengan inginku memperjuangkan kamu. Perasaan untuk mulai merenggangkan pegangan ini kepada pendirianku kadang semakin memuncak disebabkan oleh variabel-variabel ketidakmungkinan untuk memiliki kamu.

Kadang aku terlalu bersikap matematif dan berpikir realistis, memperhitungkan ketidakmungkinan dan coba menekan persentasi negatifnya dengan bersikap sedikit optimis, atau setidaknya memotivasi diri dengan hal yang bahkan tidak kuyakini dapat berguna banyak atau tidak.

Ya, aku mulai menyerah. Tapi mengapa?

Serasa usaha yang aku lakukan sejauh ini bahkan belum bisa dianggap sebagai permulaan yang layak untuk disebut sebagai sebuah persiapan. Sesuatu yang besar biasanya dilandaskan oleh persiapan yang matang, serta sudah dikalkulasikan dengan baik. Nah, usahaku memikat hatimu, pikirku sudah memasuki tahapan yang serius, tapi sebenarnya hanya berlari disebuah roda.

Kadang aku berpikir, mengapa aku bisa begitu terobsesi akan kamu. Teringat kepada banyak hal tentang kamu yang memulai rasa penasaranku. Menit demi menit yang berharga hanya dialokasikan untuk memikirkan kamu. Hingga aku menyukai semua hal yang terlintas dalam pikiranku setiap kali hal itu berhubungan denganmu.

Dan terkadang, didalam beberapa kesempatan, aku sering diperhadapkan didalam situasi dimana aku bisa bertemu denganmu, atau setidaknya memulai percakapan basa-basi yang mungkin sudah tidak asing kita temui di artikel internet berjudul “Bagaimana Cara Mendekati Pasangan Dengan Tepat”. Kata-kata yang mungkin sudah biasa diucapkan oleh banyak pria yang juga menyukaimu, tetapi bagiku itu adalah kata-kata menggetarkan lidah yang akan selalu terbawa hingga kedalam mimpi indahku.

Entah bagaimana aku akan mengenangnya nanti, tapi aku akan terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku sudah melakukan hal yang benar. Setidaknya memulai langkah kecil yang kelihatannya sepele. Hingga aku akhirnya berpikir semakin berani aku memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, akan datang lebih banyak lagi waktu-waktu terbuka di masa depan untuk kita bercengkrama, hingga aku dan kamu akhirnya bisa menjadi apa yang selama ini aku dambakan.

Dipersatukan oleh kesempatan.

Tapi nyatanya tidak.

Aku memang diberi kesempatan. Tapi aku memilih untuk mengabaikannya begitu saja. Sambil berpikir seolah-olah momen yang hilang baru saja dapat kembali untuk yang kedua-kalinya. Atau mungkin berpikir akan masih ada jutaan kesempatan lain yang menunggu didepan. Dibandingkan mengambil satu langkah lebih mulus dalam memperjuangkan kamu, aku malah memilih untuk memperlama serta memperburuk situasi. Dan bodohnya, tetap berpikir bahwa kamu akan kembali lagi.

Betul saja. Kamu tidak kembali lagi.

Dan aku masih berharap pada keyakinan yang sama.

Dan anehnya mengapa di Bumi ini masih ada orang penyepele dan pengecut sepertiku?

Tapi setelah aku berpikir, tiada guna juga menyalahkan diri sendiri atau berusaha mencari apa ada orang lain yang bernasib sama denganku hanya untuk mencari penghiburan diri, atau berpikir bahwa yang kualami sekarang ini bukan satu-satunya di Dunia ini.

Setelah aku berpikir juga untuk kedua kalinya, pertanyaan semacam ini akhirnya muncul.

Mengapa begitu banyak orang diluar sana yang berusaha menggapai inginnya hati untuk bersama dengan orang yang dikasihinya, tanpa pernah berpikir bahwa dia pantas untuk mendapatkannya?

Karena sejujurnya, ada beberapa ketidakmungkinan yang membuat banyak orang terpuruk dalam kedambaannya dan akhirnya menyerah. Merasa rendah diri, merasa tidak pantas dicintai, minder, atau yang lainnya hanyalah sekian dari beberapa alasan yang digunakan para pemendam rasa.

Aku pernah terpuruk dalam kondisi rumit seperti sekarang ini karena aku mendambakan dia yang bukan hakku.

Kamu mungkin diciptakan untuk pria lain, dan aku hanya perisa dalam kisah cintamu. Harus ada sedikit konflik yang membuat sebuah cinta bisa bertahan dari hantaman, yang membuat keduanya bisa berpegangan teguh untuk tetap mencintai.

Yang jelas aku sangat mencintai peranku. Sebagai penghantam. Sebagai objek ujian. Sebagai sebuah tumor yang tidak diharapkan. Orang lain mungkin langsung memutar haluan apabila sosok yang dicintainya tidak layak lagi diperjuangkan. Bukannya bersikap pengecut atau pesimis, mereka hanya mengerti posisinya sebenarnya dan apa yang seharusnya pantas didapatnya dengan usaha yang telah dilakukannya.

Tapi aku berbohong. Aku memantaskan diriku untuk menjadi yang terbaik. Maka jika aku berpikir memperjuangkan kamu adalah hal terbaik dalam hidupku, maka akupun akan begitu. Aku senang melihat kamu dan dia asik bercanda tawa, sedangkan aku asik dengan duniaku sendiri. Kebahagiaanmu dengannya adalah tawaku yang terenggut, dan aku bersyukur akan itu.

Bagiku terlalu sering menyalahkan diri sendiri dan terus berkaca pada kesalahan masa lalu tidak pernah menyelesaikan masalah. Keterpurukan yang dialami hanya boleh dijadikan sebagai batu tumpuan untuk melangkah. Dengan setiap saat memikirkan konsekuensi apa yang mungkin terjadi apabila kita tidak pernah melakukan lompatan tersebut.

Hanya mendambakan kamu lah, setidaknya aku merasakan sedikit kemajuan. Dari beberapa reaksi yang kamu tunjukkan memberiku secercah harapan, kalau kamu ternyata menangkap perhatianku.

Aku tidak pernah merasa sesemangat ini untuk melakukan apapun yang kusuka sebagai bagian dari tujuan untuk membuatmu terkesan, atau merasa bangga berbagi oksigen denganku di bumi ini. Aku berusaha terus menggali hal-hal baru, meningkatkan kemampuanku dalam segala hal, murni untuk meningkatkan level kehidupanku ke arah yang lebih baik.

Memperjuangkan kamu mungkin salah satu tantangan paling sulit sekaligus paling indah buat dijalani. Seharusnya aku bisa berbuat lebih baik lagi, tapi aku bakal tetap menjadi diriku sendiri, agar kamu tidak mendapati aku menjadi orang yang berbeda nantinya.

Aku akan tetap menjadi Pieter Mardi, sang pengagum rahasia dan orang yang setia memperjuangkan kamu, hingga ketikaan huruf terakhir. Aku berjanji untuk tidak menyerah memperjuangkan kamu.

Ya aku janji.

Medan, di penghujung tahun 2018.

2 thoughts on “Berjanji Untuk Tidak Menyerah Memperjuangkan Kamu

Ada yang mau kamu utarakan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.