Pendahuluan

Orang-orang berpendidikan sepatutnya bersikap sebagaimana dia seharusnya dituntut. Apalagi ketika menyandang status sebagai mahasiswa dari  universitas terbaik, mungkin akan memberikan sedikit tekanan moral untuk selalu berperilaku di jalur yang benar. Setidaknya dengan menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang berpendidikan, itu akan menciptakan rasa was-was ketika menyuarakan pendapat atau menyebarkan berita. Mereka akan berusaha menunjukkan interpetasi dari ilmu yang diperolehnya selama ini, yang selalu diwujudkan dengan sikap cerdas dalam menyuarakan opini.

Karena sejatinya kita dituntut untuk selalu aktif menjaga perdamaian diantara perbedaan. Maka, segala opini yang kita suarakan haruslah bernada kebajikan dan tidak menimbulkan kerusuhan. Karena dengan cerdas berpendapat, nama baik diri sendiri tentu menjadi bagus dan kita akan mudah diterima dimana saja dalam ruang lingkup masyarakat. Sebaliknya, menyalahgunakan hak kebebasan berpendapat untuk menyebarkan berita bohong dan provokasi dalam mencoreng nama baik sendiri, instansi, ataupun universitas tempatnya menimba ilmu.

Bukan hanya merusak nama baik Universitas, berita palsu dan ujaran kebencian yang kerap dilontarkan oleh banyak anak muda pengguna sosial media bisa menjadi sangat berbahaya jika itu diungkapkan ketika suasana Pemilu maupun Pilkada. Pesta demokrasi yang seharusnya berjalan dengan damai, bisa menjadi ricuh dan kacau karena perilaku beberapa orang yang tidak cerdas berpendapat di media sosial ataupun tidak mengerti cara merawat indahnya keberagaman dalam Pilkada.

Lantas apakah mungkin event sebesar Pilkada yang begitu rawan akan politik hitam, perilaku curang, ujaran kebencian, serta hal-hal lain yang tidak diinginkan bisa dicegah sedini mungkin dengan mulai menjadi orang cerdas dalam menggunakan sosial media?

Kata kunci : cerdas berpendapat, pilkada, korupsi, keberagaman, kedamaian.

Pembahasan

Bagian Satu : Hancurnya Kedamaian di Sosial Media

Dilansir dari hasil survei yang dilakukan oleh APJII, ada sekitar 143 juta pengguna Internet Indonesia pada tahun 2017. Artinya, separuh dari populasi Indonesia yang berjumlah 262 juta orang adalah pengguna internet. Berdasarkan tingkat pendidikan, 88% pengguna internet adalah lulusan S2 atau S3, 79,23% adalah lulusan sarjana, sedangkan lulusan SMA/sederajat mencapai 70,54%.

Artinya, sosial media menjadi tempat favorit bagi anak-anak muda untuk berekspresi dan mengeluarkan opininya terhadap segala hal, termasuk permasalahan politik. Anak muda juga masih memiliki pendirian yang relatif mudah untuk diubah, opini yang gampang untuk dibelokkan, sehingga sering dijadikan alat politik yang empuk untuk memuluskan sebuah rencana kampanye hitam.

Kembali ketopik awal, anak muda yang cerdas dan berpendidikan tentunya akan menolak untuk terlibat di semua gerakan kampanye hitam. Sah-sah saja bagi seseorang untuk memilih kandidat jagoannya sendiri, tetapi obsesi yang terlalu berlebih terkadang membutakan mata melihat keunggulan pasangan lain dan menolak untuk mengapresiasinya. Sah-sah saja bagi seseorang untuk mengkritik kebijakan atau program dari calon kandidat lain, tapi tetap harus bersikap objektif dalam menilai, dan setiap kritik yang dilayangkan harus disertai dengan data yang mendukung.

Jika hanya sekedar opini belaka tanpa ada bukti data atau analisis yang valid, itu sama saja dengan menyebarkan hoax atau ujaran kebencian. Sikap menolak untuk mengapresiasi prestasi kandidat lain-lah yang terkadang membuat seseorang tergerak untuk melayangkan ujaran kebencian, menyebarkan berita palsu, penyerangan, dan politik hitam pada rival dari kandidat junjungannya.

Hati-hati ketika mengutarakan sesuatu di media sosial. karena internet penuh dengan jebakan. Ada beberapa oknum pengguna internet yang sengaja menyuarakan sesuatu yang berbau provokatif, agar memancing pengguna internet yang awam yang kebetulan langsung membalasnya juga dengan ungkapan yang tak kalah provokatif. Satu persatu pengguna lain ikutan ‘nimbrung’ dalam percakapan itu, dan yang ditakutkan akhirnya terjadi.

Topik percakapan yang sesungguhnya tidak penting untuk dibicarakan, oleh para provokator tadi ditambahi bumbu-bumbu provokasi, orang-orang akhirnya berkelahi di sosial media, mengumpat, bahkan sampai ada ancaman untuk membunuh.

Sosial media yang dulunya sering dijadikan ajang pamer kehidupan dan tempat yang tepat untuk curhat, kini tidak lagi aman. Sosial media kini dijadikan senjata yang ampuh untuk ‘membunuh’ elektabilitas salah satu kandidat, dengan melancarkan serangan dari akun-akun palsu atau bot, penyebaran berita palsu yang amat massif, dan massa perusuh yang tidak diketahui seberapa banyaknya.

Bagian Dua : Hancurnya Ketentraman antar Persahabatan & Keluarga

Pada Pilpres 2014 tahun lalu, sudah berapa teman yang kamu unfollow di sosial media karena memiliki pilihan kandidat yang berbeda denganmu? Ada berapa akun kerabat yang kamu set ‘mute notification’-nya karena pos-pos atau cuitannya yang kerap membuatmu kesal? Atau sampai sekarang masih belum berbaikan dengan teman karena dendam kesumat yang terlalu dalam akibat berbeda pilihan kandidat?

Sekarang ini, hubungan kekeluargaan atau persahabatan yang sudah dijalin sejak lama bisa hancur dalam sekejap hanya karena berbeda pandangan atau pilihan politik. Walaupun kelihatannya terlalu berlebihan, tetapi inilah kenyataannya. Event politik jaman now mampu memisahkan dan merusak hubungan antara orangtua dengan anaknya, saudara-saudarinya, suami dan istri, dan persahabatan.

Sebuah lembaga survey di AS bernama Pew Research menemukan 41% pasangan suami istri pernah mengalami perseteruan hebat karena perbedaan pilihan dalam Pilpres AS tahun lalu. Bahkan Stacy Kaiser, seorang psikoterapis mengungkapkan, salah satu kliennya yang adalah seorang pasangan suami-istri pernah menonton acara Debat Program Kandidat di rumah teman mereka yang berbeda, pulang ke rumah sehabis acara debat selesai, namun tidur di ranjang yang berbeda.

Bahkan lebih parahnya lagi, salah satu pasangan yang ditangani oleh Stacy sering menghina satu sama lain di dalam rumah dengan panggilan idiot atau bodoh, hanya karena sering berdebat soal pandangan politik yang berbeda dan tidak menemukan titik temu yang mendamaikan.

Lain halnya dengan konteks pasangan suami istri, berbeda pandangan politik juga kadang menyebabkan banyak hubungan persahabatan kandas di tengah jalan.

Studi terkini dari Universitas Monmouth menemukan setidaknya sebanyak 7% orang telah kehilangan atau mengakhiri persahabatannya dengan temannya ketika Pilpres Amerika tahun lalu. Mereka bercekcok tentang kebijakan dan program dari Trump yang dianggap terlalu diskriminatif dan tidak masuk akal, sementara yang lain berpendapat itu adalah program kerja yang masih tergolong wajar.

Berbeda pandangan politik itu wajar. Karena setiap orang memiliki “kacamatanya” tersendiri untuk melihat sesuatu. Orang-orang memiliki versi kemajuannya sendiri, dan salah satu kandidat yang dipilihnya dirasa sebagai orang yang tepat untuk mewujudkan keinginannya. Disamping itu, hubungan kekeluargaan dan persahabatan juga harus tetap terjaga.

Ahli politik selalu menyampaikan saran agar selalu mengutamakan harmonisnya hubungan kekeluargaan dan persahabatan diatas segala-galanya, dalam konteks pemilihan umum atau Pilkada. Artinya, siapapun kandidat yang bakal terpilih, itu tidak lebih penting dari teman dan keluargamu sendiri.

Lalu bagaimana caranya menjaga kedamaian didalam Keluarga dalam situasi perbedaan secara pandangan politik? Apa ada tipsnya?

  • Berpikir dengan jernih.

Coba berpikir jauh kedepan. Pilkada demi pilkada datang dan pergi, kandidat-kandidat datang untuk dipilih dan pergi ketika sudah redup, tapi keluarga tetaplah keluarga. Untuk itu, setiap kali terlibat dalam perdebatan yang menegangkan dengan keluarga atau teman membahas topik politik, selalu berusaha berpikir jernih dengan mengucapkan dalam hati

“Aku sayang padanya. Seburuk apapun dia, dia tetaplah bagian keluargaku/sahabatku. Aku ingin kami memiliki hidup panjang yang bahagia bersama, dan itu semua lebih penting untukku daripada meyakinkan mereka jika kandidat yang mereka dukung itu salah sementara yang kudukung itu benar.”

  • Hindari berbicara politik.

Sebisa mungkin hindari topik politik. Apabila sudah terlanjur mengarah ke pembahasan politik, segera cari topik lain yang bisa dialihkan. Masih banyak topik penting yang lebih layak untuk dibicarakan di Dunia hari ini, ketimbang topik Pilpres yang kadang berujung dengan pertengkaran.

  • Cerdas menggunakan sosial media.

Ribuan link artikel dibagikan tiap detiknya di sosial media. Diantaranya ada artikel yang valid, dan ada juga yang palsu alias hoax. Biasanya berita-berita hoax yang rawan menciptakan kerusuhan, karena dilihat dari judulnya saja pun sudah berbau provokatif. Sehingga dalam sekali tatap, sudah mampu membelokkan opini publik dan berprasangka buruk. Padahal keseluruhan isi beritanya kadang tidak bermutu, karena hanya mengandalkan kekuatan headline dan kehebohan para pembaca untuk segera menekan tombol share tanpa berpikir panjang.

Kini saatnya kita cermat dalam membagikan sebuah artikel. Jika ada artikel yang mungkin dapat menyinggung dan membahas soal isu sensitif, sebaiknya urungkan diri untuk membagikannya. Karena pada umumnya kita sudah berteman dengan banyak anggota keluarga di sosial media, sehingga artikel yang kita bagikan mungkin dapat menimbulkan kekesalan atau rasa risih pada mereka yang berujung pada pemblokiran sesama akun.

Bagian Tiga : Merawat Keberagaman Dengan Mulai Cerdas Mengemukakan Pendapat

Para kandidat-kandidat yang mencalonkan diri tentu mengajukan diri sebagai calon pemimpin bukan tanpa tangan kosong. Mereka menawarkan program-program yang pastinya bakal berbeda dari program pasangan lain, namun tetap memiliki satu tujuan yang pasti. Menyejahterakan rakyat dan menciptakan kemajuan.

Keberagaman dari solusi dan program inilah yang perlu diapresiasi atau dikritisi dengan cerdas, bukannya malah dijatuhkan atau diperburuk dengan menyebarkan fitnah tentang program tersebut. Sudah saatnya kita berhenti membenci atau menghasut salah satu kandidat, karena sejatinya dapat merusak kemeriahan dari Pilkada itu sendiri.

Bagian Empat : Mengawal Demokrasi Lokal dan Melawan Korupsi bersama Mahkamah Konstitusi

Selain cerdas menggunakan sosial media untuk berpendapat tentang politik, sebenarnya ada cara yang lebih efektif untuk menjaga Pilkada steril dari hal-hal yang tidak diinginkan. Yaitu dengan tegas melawan penyakit sosial yang selalu marak menjelang Pilkada.

Korupsi. Walau Indonesia sudah banyak berbenah panjang untuk tidak lagi masuk dalam daftar negara terkorup di Dunia, atau setidaknya di Asia Tenggara, korupsi tetap jadi permasalahan yang umumnya muncul menjelang Pilkada.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan sekarang ini banyak modus-modus korupsi yang dilakukan oleh calon kepala daerah menjelang Pilkada 2018. Sudah dapat ditebak, uang hasil korupsi tersebut akan digunakan untuk biaya kampanye maju di Pilkada. Kebanyakan praktik korupsi itu berupa fee proyek, perizinan, suap pemulusan pinjaman daerah, kasus suap, dan lain-lain.

Namun biarlah KPK yang bekerja untuk mengusut tuntas kasus-kasus korupsi itu, dan kita sebagai mahasiswa dan masyarakat patutnya selalu mendukung kinerja KPK untuk tetap semangat memberantas korupsi dalam birokrasi kita.

Selain mendukung, kita ternyata bisa berpartisipasi dengan cara sederhana untuk mencegah para Calon Kepala Daerah melakukan tindak korupsi, seperti

  1. Tolak Politik Uang
    Politik uang adalah hambatan utama bangsa ini untuk mencapai Pilkada yang berkualitas. Jangan pernah mau hak pilih kamu dibeli hanya demi beberapa lembar uang, karena itu dapat menjadikan calon kandidat yang melakukan politik uang berpotensi melakukan korupsi di masa depan apabila terpilih nanti. Logikanya seperti ini, untuk mengembalikan modal yang dikeluarkan oleh calon kandidat ketika melakukan politik uang, ketika terpilih nanti, dia pastinya tidak mau rugi. Sedikit demi sedikit, uang rakyat bakal ditilep dan dikantongi untuk mencari keuntungan sendiri. Mau punya pemimpin seperti itu? Makanya, tegaskan selalu untuk menolak praktik politik uang!
  2. Jangan memilih calon kandidat yang terindikasi kasus korupsi.
    KPK selalu mengimbau pada masyarakat untuk tidak memilih calon kandidat yang terlibat praktik korupsi. Periksa rekam jejak dari kandidat yang sedang didukung, dan selalu pastikan bahwa mereka yang mengajukan diri menjadi calon pemimpin adalah orang-orang yang benar-benar bersih, berintegritas tinggi, serta memiliki komitmen anti korupsi yang diwujudkan dengan dimasukkannya Program Transparansi (apabila ada) dalam program kerjanya.
  3. Bersama-sama mewujudkan Pilkada yang bersih dan Damai
    Salah satunya adalah aktif menjadi relawan yang mengawal setiap proses penghitungan atau rekapitulasi suara, agar tidak terjadi manipulasi data oleh oknum-oknum yang mungkin sudah disuap oleh orang-orang tertentu. Dengan begitu, calon yang terpilih nantinya benar-benar pilihan dari rakyat, yang tentunya telah dipercaya untuk memimpin selama periode kepemimpinan kedepannyanya. Tak lupa juga untuk mengikuti proses pemilihan denga tertib, mengikuti aturan dan ketentuan, demi menciptakan suasana TPS yang damai dan tertib. Dengan begitu, kita sudah melibatkan diri untuk menciptakan dan merawat keragaman serta kedamaian sebagai wujud demokrasi lokal

Penutup

Sebagai penjawab hipotesa yang saya paparkan diawal, ternyata event sebesar Pilkada akan berlangsung dengan baik dan damai apabila masyarakat turut berperan aktif bersama MK, Polri, KPK, serta lembaga lain untuk menciptakan suasana Pilkada bersahabat. Dimulai dari hal-hal sederhana, seperti cerdas mengemukakan pendapat di sosial media, mencegah rusaknya hubungan kekeluargaan dan persahabatan karena perbedaan pendapat, serta peran aktif melakukan tindakan pencegahan korupsi dengan menolak politik uang, objektif menilai calon kandidat, dan lain-lain.

Sebagai pemanasan dan pembekalan pengetahuan seputar Korupsi dan Konstitusi, Mahkamah Konstitusi bekerjasama dengan KPK, MPR, dan Instansi PTN menggelar Festival Konstitusi dan Antikorupsi 2018 yang akan dilaksanakan di Universitas Sumatera Utara (USU) , pada tanggal 14-15 Mei 2018.

Festival ini digelar dalam rangka untuk memperkuat konstitusi dan dukungan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. Baik di pusat, provinsi, kota/kabupaten, hingga desa. Festival ini akan memberikan pemahaman dan wawasan yang bermanfaat bagi masyarakat bahwa konstitusi dan kegiatan antikorupsi, terutama pemberantasan korupsi selalu berkaitan erat. Konstitusi di Indonesia akan berdiri tegak apabila korupsi dapat diberantas.

Marilah seluruh rakyat Indonesia,  dengan kesadaran penuh dan peran aktif bersama KPK dan MK untuk memberantas kampanye hitam dan korupsi, demi menyukseskan Pilkada 2018 yang akan datang. Salam.

oleh Pieter Mardi H. Siallagan
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris,
Universitas Negeri Medan

Referensi

Mahkamah Konstitusi. (2018, 27 April). MK, MPR dan KPK Sepakat Gelar Festival Konstitusi dan Antikorupsi di USU. Diperoleh 2 Mei 2018, dari http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=14461

Arga Sumantri. (2018, 27 April). Festival Konstitusi dan Antikorupsi bakal Digelar di USU. Diperoleh 2 Mei 2018, dari http://news.metrotvnews.com/read/2018/04/27/866904/festival-konstitusi-dan-antikorupsi-bakal-digelar-di-usu

Marlinda Oktavia Erwanti. (2018, 27 April). USU Jadi Tuan Rumah Festival Konstitusi dan Antikorupsi Ke-3. Diperoleh 2 Mei 2018, dari https://news.detik.com/berita/3994171/usu-jadi-tuan-rumah-festival-konstitusi-dan-antikorupsi-ke-3

Alice Park. (2016, 28 October). How to Navigate Awkward Conversations Between Now and the Election. Diperoleh 2 Mei 2018, dari http://time.com/4549231/how-to-navigate-awkward-conversations-between-now-and-the-election/

Andrea Chang & Samantha Masunaga. (2015, 18 Agustus). Social media’s role in elections is growing. Diperoleh 2 Mei 2018, dari https://www.seattletimes.com/nation-world/social-medias-role-in-elections-is-growing/

M Alamgir Hossain. (2017, 8 Mei). Social media in election campaign: Role and responsibility. Diperoleh 2 Mei 2018, dari http://www.daily-sun.com/printversion/details/229566/Social-media-in-election-campaign:-Role-and-responsibility

Sakina Rakhma Diah Setiawan. (2018, 19 Februari). Tahun 2017, Pengguna Internet di Indonesia Mencapai 143,26 Juta Orang. Diperoleh 2 Mei 2018, dari https://ekonomi.kompas.com/read/2018/02/19/161115126/tahun-2017-pengguna-internet-di-indonesia-mencapai-14326-juta-orang

Nicole Lyn Pesce. (2016, 5 November). The presidential election is dividing spouses, families and friends. Diperoleh 2 Mei 2018, dari http://www.nydailynews.com/life-style/presidential-election-dividing-spouses-families-friends-article-1.2858614

Tim VIVA. (2018, 23 Februari).Korut Negara Terkorup se-Asia Pasifik, di Mana Posisi RI. Diperoleh 2 Mei 2018, dari https://www.viva.co.id/berita/dunia/1010139-korut-negara-terkorup-se-asia-pasifik-di-mana-posisi-ri

Rangga Tranggana. (2018, 1 Januari). KPK Imbau Jangan Pilih Kandidat yang Terlibat Korupsi. Diperoleh 2 Mei 2018, dari http://www.jurnas.com/artikel/27184/KPK-Imbau-Jangan-Pilih-Kandidat-yang-Terlibat-Korupsi/

Boy/JPNN. (2017, 10 Februari).KPK: Jangan Pilih Calon Pemimpin Berkasus Hukum. Diperoleh 2 Mei 2018, dari https://pilkada.jpnn.com/news/kpk-jangan-pilih-calon-pemimpin-berkasus-hukum

Dwi Aditya Putra. (2018, 10 Februari). Bawaslu gelar deklarasi tolak politik uang dan SARA di Pilkada 2018. Diperoleh 2 Mei 2018, dari https://www.merdeka.com/politik/bawaslu-gelar-deklarasi-tolak-politik-uang-dan-sara-di-pilkada-2018.html

Arie Dwi Satrio. (2018, 2 Maret). KPK Beberkan Modus Korupsi Kepala Daerah Jelang Pilkada. Diperoleh 2 Mei 2018, dari https://news.okezone.com/read/2018/03/02/337/1866804/kpk-beberkan-modus-korupsi-kepala-daerah-jelang-pilkada

5 thoughts on “Cerdas Berpendapat Untuk Merawat Keberagaman dan Kedamaian dalam Pilkada

  1. Tak hanya berpendapat, masyarakat khususnya netizen juga harus pintar-pintar memilih dan memilah akun-akun yang mereka follow berikut informasi yang mereka terima. Zaman now akun bodong bayaran berkedok netral dan independen hadir dimana-mana, dengan pencitraan yang sebagus-bagusnya sehingga orang jadi mudah percaya. Walhasil berbagai konten dengan informasi hoax dan provokasi terselip menetas dan berkembang biak pesat di sosial media bak virus-virus penyakit.

    Like

Ada yang mau kamu utarakan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s