Terkadang aku tidak menyadari titik dimana aku berdiri sekarang ini. Memikirkannya membuatku lelah, dimana aku harus memutar kembali kilas balik waktu untuk mencapai momen itu. Kembali kedalam ingatan yang tidak pernah menuntaskan penasaranku. Rasa keingintahuanku tentang kamu, seseorang yang pernah memberiku semangat, disaat aku pernah berada di titik terendah dalam hidupku.

Titik itu berada di Bumi. Dan penghuninya adalah kita sendiri. Manusia. Makhluk yang selalu bertengkar tentang perihal asal-usul keberadaan dan eksistensinya di dunia ini. Sementara yang satunya bertengkar, yang satu lagi adalah makhluk yang gemar menyakiti dirinya sendiri dengan cara merindukan seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkannya sedetikpun.

Kebiasaan menyakiti diri sendiri itu hanya bisa kita temukan di Bumi. Seperti melihat senyum-senyum mengembang dari bibir para masochist yang mencapai kepuasannya, ketika seseorang yang berdiri tepat didepannya mengucapkan kata penggorok daging hati atau asam bagi luka terbuka. Dan kata-kata itu seperti

Aku tidak mencintaimu lagi.

Savage!

Sesungguhnya aku tidak pernah merindukanmu.

Unstoppable!

Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi

Legendary!

Percayalah, kata-kata seperti itu sudah amat biasa terdengar di planet tercinta ini. Hanya saja aku hanya memahaminya dalam bahasaku sendiri, karena terlalu banyak ungkapan dalam bahasa lain yang tidak kumengerti. Yang tidak kupahami ialah, bagaimana bisa kita bersikap seolah bahagia dengan keadaan seperti itu?

Karena bagiku asing sekali. Aku sudah hidup dua puluh tahun lamanya dan rasanya seperti menjajaki dunia baru. Padahal ini adalah bumi yang kudiami. Tempat dimana akhirnya aku mungkin akan menemukan tulang rusukku yang hilang. Atau menjadi tempat dimana aku akan menghabiskan masa tuaku dengan berdansa dengan gadis-gadis bartender bertatto, atau berkelahi dengan para pemabuk, saling mengumpat hanya karena berdebat menentukan Bumi itu berbentuk bulat atau datar.

Tapi aku masih muda. Jiwaku masih berapi-api. Keinginan untuk selalu dekat dan bergelut dengan para wanita adalah kegemaran pria-pria lain yang seumuran denganku. Tapi akan selalu ada perbedaan yang membuatku tidak sepenuhnya sama seperti lelaki lain. Mereka boleh saja berteman dengan gadis manapun yang mereka mau, mengoleksi pacar dan mantan pacar sebanyak apapun dan memamerkannya dengan bangga seolah-olah itu adalah sebuah prestasi, tetapi akhirnya tiba saat dimana

hanya akan ada satu wanita diakhir perjuangan

yang menuntaskan keinginan sang pria berpetualang menemukan tulang rusuknya yang hilang, karena kepingan yang menghilang itu akhirnya bersatu kembali.

Aku adalah salah satu pria yang cukup lama menghabiskan waktu untuk mencari inginnya hati kemanapun aku dituntun. Dan satu-satunya alasan mengapa aku belum berhenti mencari, karena aku tidak menyadari dia yang selama ini kucari ternyata berdiri tepat didepan bola mataku.

Alasan mengapa aku belum menyerah kepada dunia, menangisinya, hingga pernah berpikir untuk meninggalkannya suatu hari nanti, itu semua karena

aku merindukan kamu.

Merindukan kamu yang pernah memberiku semangat hidup yang nyata, saat aku pernah berada di titik terendah dalam hidupku. Membuatku berpikir kalau aku tidak akan punya kesempatan kedua apabila kamu tidak pernah hadir dan mengubah semuanya. Dan Bumi kadang hanya bisa tersenyum sedikit melihat tingkah laku konyol dan bodoh yang pernah kita lakukan bersama. Bumi menyaksikan semuanya.

Sangat jarang terjadi di dunia ini ketika seseorang tiba-tiba hadir lalu melukis tawa.

Lalu pergi sebentar mengarungi belahan dunia lain, hingga membuat salah satu diantara mereka harus menanggung rindu. Pegangan tangan yang erat itu kadang sering terbawa hingga kedalam mimpi. Dekapan hangat itu sering merasuk sendiri kedalam raga, hingga membuatku berhalusinasi bahwa itu adalah pelukan darimu.  Jika mimpi-mimpiku ketika bersamamu bisa diabadikan dan disimpan, mungkin pabrik yang memproduksi disket sekarang ini pastilah sudah bangkrut.

Kebanyakan dari mereka yang pergi ialah para pemimpi. Berusaha memperbaiki kualitas hidup, atau berusaha memantaskan diri untuk dirindukan. Menjadi ‘seseorang’ yang pantas dirindukan. Tidak hanya dirindukan dengan kata-kata, tapi setiap dekapan itu, berarti.

Yang diperjuangkan oleh para pemimpi, adalah nyata. Bukan hanya angan yang melintas sebentar, pergi meninggalkan jejak angin. Mimpi yang berarti, dan menjadi sumber kebahagiaan bagi siapapun yang teringat olehnya. Mimpi yang diinginkan oleh siapapun umat manusia di muka Bumi ini.

pemimpi kesia siaan

Tidak ada seorangpun yang mau menjadi pemimpi kesia-siaan. Sepertiku. Merindukan kamu yang bisa saja sedang merindukan orang lain diluar sana. Bukannya aku ingin mengharapkan dunia sejalan dengan keinginanku, hanya saja segala kemungkinan itu ada. Mungkin saja kita masih memiliki rasa yang sama. Atau mungkin saja kemungkinan-kemungkinan itu hanya kuciptakan berdasarkan kemauan dan fantasiku sendiri. Berharap aku bisa menjadi pemimpi kebahagiaan yang pantas untuk kamu rindukan, tapi nyatanya tidak.

Aku belum pantas. Proses kehidupan yang kujalani belum terlalu cukup untuk membuatku menjadi pria dewasa. Pengalaman yang kutatap tiap detiknya ternyata hanya halusinasi yang tidak membuatku kuat setiap waktunya. Aku masih pecundang seperti yang dulu, yang bahkan tidak mampu menatap bola matamu untuk sekedar bertukar tatap, melakukan interaksi normal seperti manusia pada umumnya.

Tapi sebisa mungkin aku akan berusaha

Karena Tuhan tahu aku sangat merindukanmu, dan Dia memahamimu lebih dari siapapun di dunia ini. Dia tidak akan tinggal diam melihatku kerap menyiksa diri dengan segala fantasi liarku tentang kamu, dan besar kemungkinan Dia juga akan memangkas habis semak belukar yang selama ini menutup keyakinanku bahwa kamu tidak sedang merindukanku.

Terkadang sulit untuk berpikir jernih dalam situasi seperti ini, tapi memikirkan segala sesuatunya tentang kamu selalu terasa mudah. Mudah untuk menebak apakah masih ada tahta yang bisa kutempati didalam hatimu, karena dulu kita pernah berada dalam satu koefisien rasa yang sama.

Kita pernah saling merindukan. Walaupun aku sedikit meragukannya, karena pada waktu itu kita belum mampu berpikir dengan jernih. Tapi mengingatnya membuatku sadar, bahwa cerminan diriku pada waktu dulu ternyata bisa melakukan hal yang lebih baik daripada yang aku pikirkan sekarang ini. Dan perlahan, senyum itupun kembali merekah, saat memori itu kembali datang dan menggelitik alam sadar terbawahku saat aku terlelap.

Aku akan berusaha untuk tidak meragukannya lagi. Karena semuanya terjadi dalam linimasa yang sudah diatur, tidak ada yang terjadi tiba-tiba, dan semuanya yang kukira sudah berantakan semenjak kita kehilangan kontak, ternyata segalanya masih berada ditempat yang sama. Tidak beranjak, tidak berubah, tepat berada dimana saat aku meninggalkannya.

Karena merindukanmu telah berubah menjadi kenikmatan tersendiri. Hidup di Bumi tidak lagi menjadi sebuah keterpaksaan, melainkan tantangan untuk memantaskan diri dirindukan oleh siapapun.

Semua pandanganku berubah sejak aku mulai merindukanmu.

Ternyata benar. Bumi bisa saja menjadi tempat dimana hal-hal baik terjadi begitu saja, orang-orang datang menghampiri, membasuh luka dan melukis tawa, dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan kerinduan. Tapi pemimpi-pemimpi kebahagiaan ditempa disana. Dilatih untuk menjadi seseorang yang pantang menyerah memperjuangkan mimpinya, dan akhirnya meninggalkan nama sebagai orang yang pantas untuk dikenang dan ditangisi.

Ternyata benar. Aku tidak membutuhkan proses lama dalam pengumpulan pengalaman untuk menjadi seseorang yang pantas kamu rindukan. Yang perlu kulakukan ternyata hanya percaya pada keyakinan sendiri, bahwa perasaanku belum berubah sejak dulu. Semuanya masih berada pada tempatnya. Semua ini hanya masalah kerinduan yang sialnya belum tertuntaskan hingga hari ini.

Semua pandanganku terhadap dunia berubah sejak kamu hadir. Ku harap kehadiranmu tetap utuh untuk selama-lamanya, karena aku tidak bisa tetap pada pendirianku pada waktu lama. Aku ingin kamu disini, mengingatkanku saat aku mulai menjauh dari dunia, menyadarkanku bahwa aku masih punya kesempatan kedua. Memberikanku semangat hidup untuk kedua kalinya, dan aku harap itu juga bukan untuk yang terakhir kalinya.

Aku merindukanmu.

One thought on “Merindukan Kamu

Ada yang mau kamu utarakan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s