Saya ingat ketika pertama kali saya mendaftarkan blog pribadi ini dan mulai memutuskan untuk menekuni dunia kepenulisan, banyak sekali rasanya hal-hal menarik yang ingin diungkapkan. Tapi dalam situasi itu saya masih berstatus sebagai ‘newbie’ atau penulis pemula yang belum mengetahui seluk beluk dalam seni menulis, akhirnya pos-pos yang pertama kali diterbitkan di blog saya ini hanyalah lirik-lirik lagu yang saya tuliskan semasa duduk di bangku SMP dulu, atau puisi-puisi yang gagal diikutkan ke lomba pentas seni SMP, hingga tulisan inspiratif hasil salinan dari buku-buku pelajaran yang biasanya diletakkan di akhir bab.

Pola pikir saya saat itu masih bersifat instan, memiliki tingkat obsesi yang tinggi untuk menjadi penulis muda terkenal dalam waktu singkat, dan masih belum memahami seberapa arti dari originalitas sebuah karya.

Tepatnya tiga tahun yang lalu saya menjadi pengagum grup band musik NOAH yang bangkit kembali ke panggung musik tanah air ketika pertengahan tahun 2013. Dan saya terpukau oleh kedalaman arti dari lirik-lirik lagu mereka, yang membuat saya merasa memiliki “modal” untuk ditulis ke dalam blog pribadi saya nantinya. Menulis lirik lagu kan gampang, pasti bisa berkarya banyak hanya dari lirik lagu, pikirku. Akhirnya awal tahun 2014, saya memutuskan untuk menulis dan mendaftarkan sebuah blog, dengan lirik-lirik lagu masih menjadi hidangan awal untuk para pembaca blog pribadi saya yang kala itu masih bisa dihitung dengan jari.

( Tiga tahun yang lalu, masih ngepost lirik lagu )

Keadaan jiwa yang sedang labil dan sering berganti-ganti mood dalam melakukan sesuatu, membuat saya terus menulis lirik lagu yang sesuai dengan perasaan hati saya. Apalagi SMP adalah zaman di mana remaja seperti ku masih dalam tahap pubertas, cinta monyet sedang adem-ademnya bersemi, dan perasaan yang gampang patah hati atau jatuh cinta. Semuanya itu gampang sekali dituliskan dalam bentuk lirik lagu, walau gaya bahasanya akan menyesuaikan dengan umur sang penulis itu sendiri. Banyak lirik lagu yang telah saya tulis, tapi hanya 1-3 yang ‘layak’ dipublikasikan ke blog pribadi ini.

( Fase-fase alay SMP menjalar, penggunaan kata lo-gue yang signifikan , dan tata bahasa yang tidak baku, tepat tiga tahun yang lalu)

Bahkan saking inginnya saya menambah jumlah post dalam blog saya, salah satu tugas sekolah saya pun dengan bangganya saya terbitkan (Dan malah tulisan itu meraih statistik yang cukup tinggi dibandingkan tulisan yang lain).

(Senyumin aja yaaa )

Saya bisa senyum dan ketawa-ketawa sendiri setiap kali saya membuka arsip pos yang lama, sama seperti kalian yang mungkin juga seorang penulis bakal tahu masa-masa alay saat jadi penulis pemula dulu. Sama lucunya juga ketika kita melihat kembali status-status jadul di facebook kita yang membuat kita menyadari

“Gue ternyata dulu pernah alay juga”

Dan juga saya sangat memaklumi gaya kepenulisan saya yang masih aneh, didominasi oleh kata lo-gue, dan bahasa gaul lainnya. Sebuah pos blog bisa menjadi ladang curhat untuk mencurahkan isi hati, dengan bahasa yang menggelitik, namun pada ‘masanya’ ketika tulisan itu dibuat, saya merasa itulah kemampuan terbaik saya dalam menulis.

Dan sesuai dengan judul postingan saya kali ini, membahas tentang bagaimana waktu mengubah pola pikir saya dalam menulis, karena saya meyakini proses pendewasaan manusia itu ada, dan intensitasnya juga tergantung oleh proses interaksi yang dilakukannya. Semenjak saya memutuskan untuk menulis, saya mencoba untuk lebih peka lagi menghadapi permasalahan hidup, berusaha mencari hal-hal yang unik untuk diceritakan, dan tentunya melakukan hal-hal yang para penulis lakukan pada umumnya.

-Kebiasaan umum para penulis

Mencari inspirasi di malam hari dengan ditemani bergelas-gelas kopi, menghabiskan berjam-jam di depan laptop hanya untuk memulai sebuah paragraf pertama. Karena baru saya sadari sekarang, untuk menjadi seorang penulis, kadang proses mencari ide atau bahasan menulis itu bisa lebih lama daripada proses penulisannya itu sendiri.

-Yin-Yang  (banyak membaca = mahir menulis)

Membaca banyak buku untuk menambah wawasan. Cara ini kadang tidak efektif ketika tujuan yang hendak dicapai untuk menulis tidak sesuai atau tidak kompatibel dengan materi buku yang sedang dibahas. Maksud saya, ketika ingin menulis pos blog yang bertemakan psikologi, tentunya buku yang kita perlukan untuk mendukung tema pos yang sedang diusung haruslah tentang psikologi juga. Tak lupa pemilihan bukunya juga harus spesifik, agar ide atau gagasan yang sedang kita persiapkan untuk ditulis bisa dengan mudah didukung oleh teori dan materi dari buku yang sedang dibaca.

Kita memang terfokus untuk membaca buku yang sesuai dengan minat menulis pos kita. Masalahnya, terlalu spesifik mencari bahan menulis yang tepat dan benar-benar menarik untuk diangkat bisa menjadi kendala, mengingat pengetahuan dan inspirasi bisa didapat dari buku apa saja. Sesuai dengan rumus ingin pandai menulis, tentu harus banyak membaca. Harus sejalan, karena kedua unsur itu seperti Yin-Yang bagi seorang penulis. Yang mau saya katakan adalah, banyak membaca buku membuat tingkatan sebuah tulisan yang dihasilkan berbobot tinggi dan juga memiliki daya saing yang tinggi.

Jadi penulis itu butuh waktu

Tidak mengherankan jika fase-fase awal seorang penulis pemula mulai berkarya akan memiliki hasrat atau obsesi yang tinggi untuk menjadi penulis terkenal dalam waktu singkat. Itu wajar karena mungkin faktor semangat yang terlalu berapi-api, memandang profesi penulis sebagai pekerjaan yang mudah dan mengasyikkan. Terlalu terikat pada mindset bahwa “menulis adalah pekerjaan yang paling gampang dan mengasyikkan, hanya duduk di depan laptop, menulis cerita, artikel, dan buku sementara pundi-pundi uang terus mengalir ke dalam rekening. Memang ada benarnya, tetapi terlalu terikat pada mindset seperti itu, hingga tidak mengetahui fakta dibaliknya bahwa sebelum J.K Rowling menerbitkan novel bestsellernya “Harry Potter”, naskah bukunya hampir terus ditolak oleh berbagai penerbit dan malah dicap sebagai cerita yang tidak masuk akal dan tidak pantas diterbitkan menjadi sebuah buku.

Bercerita tentang semangat yang berapi-api, saya tiba tiba teringat nostalgia ketika satu tahun saya genap menjadi seorang penulis blog, saya bersikap pede bisa menulis sebuah buku dalam target kurang dari kurun dua tahun. Tapi semakin saya menenggelamkan diri dalam dunia kepenulisan, dengan masuk kedalam grup komunitas sesama blogger, malah membuat saya mengerti jika yang saya lakukan hanyalah sebuah permulaan. Bahkan belum mencapai satu tahap apapun dalam tingkatan kualitas sebuah penulis, jika andaikan skalanya memang ada.

Mengapa begitu?

Karena tulisan-tulisan yang saya hasilkan pada waktu itu masih sangat berantakan. Tanpa struktur yang benar, tanpa pemilihan diksi yang tepat, dominasi penggunaan bahasa informal daripada bahasa formal, dan seringkali menulis paparan teori hanya dari pendapat sendiri, dan tanpa dasar sama sekali. Jarang membaca buku, kurang tertarik mengunjungi blog pribadi orang lain, dan masih sedikit sekali pengetahuan tentang unsur originalitas itu sendiri.


Tapi waktu terus berjalan. Saya sudah terbiasa berinteraksi dengan sesama blogger di grup kepenulisan saya, dan saya juga hampir tiap hari ikut blogwalking dan singgah di situs blog teman-teman saya. Kadang saya suka memperhatikan gaya menulis dari seseorang, cara-cara kreatifnya menggunakan kalimat sapaan yang gaul, menempatkan unsur-unsur humor pada saat yang tepat tanpa mengurangi keseriusan dalam membaca, dan berbagai aspek lainnya yang membuat saya takjub. Dengan masuk ke dalam grup kepenulisan itulah, saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa ternyata semua hal dalam hidup bisa dijadikan tulisan yang menarik, asalkan didukung pula oleh kemampuan sang penulis.

Saya mendapati beberapa judul atau tema postingan yang bahkan saya tidak pernah duga bisa diceritakan dalam bentuk postingan, dan saya juga salut dengan gaya penyampaian tulisannya yang sangat bagus hingga tak membuat pembaca bosan. Peristiwa itu membuka mata saya dengan lebar. Ada keinginan dan obsesi untuk membuat postingan yang berkualitas seperti itu, dan saya memulainya dengan adaptasi yang perlahan.

Lama saya bergelut dalam grup itu, mempengaruhi gaya bahasa menulis saya, dan kadang apabila ada kesalahan, teman-teman saya selalu ada untuk mengoreksi dan memberi saran yang membangun dalam menulis postingan saya selanjutnya. Dan akhirnya, pola pikir saya dalam menulis akhirnya berubah karena itu.

Ditambah lagi, saya kembali aktif di sosial media Twitter yang selalu membahas topik terkini yang sedang ngehits dan trend, sehingga saya bisa ikutan memberi opini atau sekedar membantu saya menulis postingan yang relevan dengan trend itu.

Seperti pada tahun kemarin ketika Trump berhasil menjadi Presiden AS, dan memunculkan banyak sekali kontroversi, saya tertarik untuk membahasnya dan mulai mencari semua hal yang berkaitan dan bisa membantu saya menciptakan tulisan itu. Dan inilah hasil akhirnya

bisa dibaca disini Opini Penulis

Dan hasilnya, banyak yang merespon dan juga memberikan komentarnya, yang artinya saya sukses menciptakan sebuah postingan yang bermutu dan berkualitas. Dulunya saya cuma bisa memasukkan artikel copy paste dalam blog saya, sekarang saya bisa menuliskan opini saya sendiri yang kiranya bisa bermanfaat bagi orang lain.


Waktu yang berjalan terus terbukti memberikan saya pelajaran demi pelajaran yang berharga untuk berpikir, dan menciptakan sesuatu. Proses pendewasaan itu akan selalu ada, bahkan sering terjadi tanpa disadari. Disaat proses pendewasaan itulah, kesempatan bagi kita untuk terus berlatih.

2 thoughts on “Bagaimana Waktu Mengubah Pola Pikir Saya Dalam Menulis

Ada yang mau kamu utarakan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s